Aku awalnya BUKAN termasuk orang yang merasa bahwa tulisan di profile status BBM. status di YM, posts di facebook, tweets di twitter itu menggambarkan tentang kita.
Tetapi aku biasanya sih memang menulis segala sesuatu yang terlintas di kepala *dan layak share* di tweet (setelah aku berhenti facebooking).
Tapi untuk beberapa orang tampaknya profile status di BBM atau status di YM suka diubah-ubah dalam hitungan menit sehingga benar-benar menggambarkan suasana hati (dan sifat?) pemiliknya sehingga mau ga mau aku berpikir ya memang dia orang yang seperti itu.
Ada salah seorang contact di BBM yang profile statusnya selalu berisi motivational quote, kata2 yang baik2 dan normatif. Dalam kehidupan nyata ya memang seperti itulah orangnya.
Ada juga contact di BBM yang setiap 5 menit statusnya berubah (disertai perubahan profile pic tentunya hehehehe) yang isinya selaluuuu tentang keluhan.
Awalnya sih biasa saja membacanya, tapi end up kesel juga (apa sih iniiiiii, tiap 5 menit ada aja yang dikeluhin). Dan karena yang menulis seperti itu adalah junior, aku akhirnya mengambil sikap tidak mau lagi memberi dia kerjaan (look! how a simple BBM status can affect your chances and opportunities)
Mengembalikan pada diri sendiri, aku jadi sekarang berusaha (masih dalam tahap berusaha ya :p) untuk ga terlalu banyak berkeluh kesah di twitter, soalnya kok ya ternyata berkeluh-kesah yang terus-terusan itu mengganggu orang (dan bikin orang berpikir kita ini ahli keluh)----meskipun ini susah sekali, karena kalo males kerja tapi kerjaan numpuk itu ya enaknya memang ditulis di twitter :D
Aku juga bukan tipe orang yang akan post inspirational quotes terus-terusan sih (kecuali dalam keadaan termotivasi).. cuma memang kadar tweet atau post yang berbau keluhan sepertinya lebih baik dikurangi (seperti halnya mengeluh itu kan memang ga baik).
Beberapa kali ini baca di twitter pas wawancara pekerjaan si kandidat ditanya akun twitternya dan langsung dibuka timeline-nya saat itu juga oleh si pewawancara. Dengan asumsi the tweets define the candidate.
Setelah baca seperti itu aku sekarang jadi sering membaca-baca ulang timelineku sendiri dan harus lebih hati-hati menulis sepertinya.
Bukan dalam konteks nanti akan cari kerja dan si bos akan bacain timeline (teknik ini sepertinya belum berlaku dalam dunia kedokteran---pas melamar sekolah/kerja trus TLnya dibaca), but in real life, that kind of judgement will naturally happen.
Don't you think so?
